Genetika Kediktatoran

kenapa manusia cenderung mencari pemimpin dominan

Genetika Kediktatoran
I

Mari kita mulai dengan sebuah pengakuan yang mungkin agak tidak nyaman untuk diakui bersama. Jika kita melihat kembali lembaran panjang sejarah manusia, ada satu pola yang terus berulang dan rasanya cukup membingungkan. Kita selalu mengagungkan betapa indahnya kebebasan dan berharganya demokrasi. Namun entah kenapa, kita punya kebiasaan buruk yang ironis: kita sering sekali jatuh cinta pada sosok diktator. Dari era Julius Caesar di masa Romawi kuno hingga berbagai pemimpin otoriter yang muncul di era modern, polanya hampir selalu sama. Seseorang dengan suara lantang, janji-janji absolut, dan tangan besi muncul ke permukaan, lalu jutaan orang dengan sukarela menyerahkan kebebasan mereka begitu saja. Pernahkah teman-teman berpikir, mengapa hal ini terus-menerus terjadi? Apakah kita sebagai umat manusia pada dasarnya memang tidak pernah belajar dari sejarah? Atau jangan-jangan, ada sesuatu yang jauh lebih primitif yang sedang mengendalikan kita dari balik layar kesadaran kita?

II

Untuk menjawab pertanyaan yang mengganjal itu, kita harus memutar waktu jauh ke belakang. Sangat jauh, tepatnya ke masa ketika nenek moyang kita masih hidup berpindah-pindah di sabana Afrika yang keras. Di masa itu, ancaman terhadap nyawa datang setiap hari. Mulai dari harimau bergigi pedang yang mengintai di balik semak, ancaman badai kelaparan yang melanda tanpa ampun, hingga suku tetangga yang siap menyerang kapan saja. Dalam kondisi survival mode yang mencekam seperti ini, tidak ada waktu untuk melakukan voting atau debat terbuka layaknya di gedung parlemen. Di tengah krisis darurat, kelompok yang bisa bertahan hidup adalah kelompok yang mampu membuat keputusan dengan cepat. Dan cara paling efisien untuk mengambil keputusan cepat adalah dengan menyerahkan kendali penuh kepada individu yang paling besar, paling agresif, dan paling percaya diri di dalam kelompok tersebut. Kita secara historis memang terbiasa mencari sosok alpha. Tapi pertanyaannya sekarang, setelah ribuan tahun berlalu dan kita sudah hidup nyaman dengan koneksi internet serta aplikasi pesan-antar makanan, kenapa insting purba ini masih sangat mudah terpancing?

III

Di sinilah sains mulai menunjukkan taringnya, dan segalanya menjadi semakin menarik untuk kita bedah. Coba teman-teman perhatikan apa yang terjadi ketika sebuah masyarakat atau negara sedang mengalami krisis yang hebat, entah itu krisis ekonomi, pandemi, atau kekacauan sosial. Ketakutan massal ini memicu produksi hormon stres, yaitu kortisol, dalam jumlah yang masif di tubuh dan otak kita. Ketika kortisol membanjiri sistem saraf, bagian otak purba kita yang bernama amygdala—pusat alarm rasa takut—langsung mengambil alih kendali utama. Di saat yang bersamaan, prefrontal cortex, bagian otak depan yang bertanggung jawab atas logika, analitis, dan pemikiran kritis, justru melambat dan meredup. Saat otak kita dibajak oleh rasa panik, kita secara tidak sadar memancarkan "sinyal bahaya" yang mencari rasa aman dengan segala cara. Tapi, mengapa rasa aman ini sering kali berwujud seorang pemimpin yang sangat dominan bahkan cenderung tiran? Apakah memang ada sebuah cetak biru genetik di dalam DNA kita yang memaksa kita untuk tunduk begitu saja pada kekuasaan mutlak?

IV

Jawabannya mungkin akan sedikit mengejutkan kita semua: ya, dorongan untuk tunduk itu memang tertanam kuat dalam biologi kita. Para ahli psikologi evolusioner dan genetika perilaku menemukan bahwa manusia mewarisi apa yang disebut sebagai followership psychology atau psikologi pengikut. Gen kita merekam memori lintas generasi selama ribuan tahun bahwa menentang pemimpin yang dominan di tengah masa krisis sering kali berujung pada kematian atau pengasingan fatal dari suku. Tunduk adalah mekanisme bertahan hidup. Pemimpin otoriter yang muncul di masa krisis memancarkan ilusi kepastian dan kekuatan fisik atau mental yang sangat dirindukan oleh otak kita yang sedang ketakutan. Mereka memanipulasi amygdala kita dengan menciptakan narasi musuh bersama yang menakutkan, lalu memposisikan diri mereka sebagai satu-satunya pahlawan penyelamat. Jadi, kecenderungan kita untuk bersorak mendukung diktator bukanlah sekadar tanda kebodohan kolektif. Itu adalah respons biologis dasar yang tervalidasi oleh evolusi. Demokrasi, toleransi, dan proses saling mendengarkan adalah produk dari pemikiran tingkat tinggi yang modern. Demokrasi itu rumit dan membutuhkan kalori kognitif yang besar. Sedangkan kediktatoran? Sayangnya, itu adalah setelan pabrik alias default mode dari otak primata kita saat sedang dilanda kepanikan.

V

Menyadari realitas biologis ini seharusnya tidak membuat kita merasa pesimis, melainkan justru membebaskan pikiran kita. Mengetahui bahwa kecenderungan mencari pemimpin tiran berakar dari gen dan cara kerja otak primitif berarti kita bisa mulai bersikap lebih penuh empati pada diri kita sendiri dan masyarakat kita. Kita ini pada dasarnya hanyalah kera tak berbulu yang kebetulan sudah pandai memakai pakaian rapi, yang terus berusaha keras mencari perlindungan di dunia yang penuh ketidakpastian. Namun kabar baiknya yang paling penting adalah: kita bukanlah budak yang harus selalu patuh pada DNA kita. Kita memiliki anugerah berupa prefrontal cortex yang tebal, yang memungkinkan kita untuk berhenti sejenak, mengambil napas, berpikir rasional, dan memutus rantai insting purba tersebut. Mulai saat ini, setiap kali kita mendengar ada calon pemimpin yang berteriak marah-marah, menebar ketakutan berlebih, dan menjanjikan solusi instan tanpa cacat, kita bisa tersenyum simpul secara sadar. Kita tahu persis apa trik yang sedang ia gunakan. Ia sedang mencoba memanggil sisa-sisa ketakutan manusia purba di dalam diri kita. Dan kita, sebagai manusia modern yang mau berpikir kritis, punya kekuatan penuh untuk menjawab di dalam hati: "Terima kasih atas tawarannya, tapi otak kami sudah berevolusi."